Panca Prosa

Besok, Coba Lagi

Bolehkah ia berhenti sebentar tanpa dianggap menyerah?

Telah ditemukan seorang pemuda yang masih berjalan dari stasiun ke stasiun lainnya, meski sebagian dirinya terasa tertinggal jauh di belakang. Anehnya, ia selalu tampak ramah dan masih sempat tersenyum seolah hidup tidak pernah terlalu berat baginya.

Apakah seseorang dapat disebut baik-baik saja hanya karena ia masih berangkat, pulang, dan menjawab sapaan seperti biasa? Atau manusia memang pandai menyembunyikan letih di balik kebiasaan yang terus diulang? Bagaimana jika sejak kecil ia terbiasa mengisi hari dari sebelum matahari terbit sampai malam, lalu tumbuh menjadi seseorang yang bahkan tidak tahu apa yang sungguh ia kejar? Bukankah ada orang-orang yang terus maju bukan karena jalannya jelas, melainkan karena berhenti terasa lebih menakutkan daripada tersesat?

Tak banyak yang tahu bahwa ia telah melewati begitu banyak pintu, meninggalkan beberapa di antaranya dengan perasaan yang tak pernah benar-benar selesai, lalu suatu hari mendapati dirinya berjalan di sebuah jalan yang sejak awal terasa seperti milik orang lain. Kereta yang singgah, perjalanan yang berulang, tempat-tempat asing, serta kewajiban yang datang silih berganti menjadi saksi bagaimana ia berkali-kali menelan kecewa sambil berkata dalam hati, hahaha, gagal lagi. Sementara orang-orang di sekitarnya mulai sampai di tempat-tempat baru, ia masih berada sedikit di belakang dengan satu keyakinan kecil bahwa hidup orang lain tak perlu dijadikan ukuran, sebab setiap orang membawa medan perangnya sendiri.

Bolehkah ia berhenti sebentar tanpa dianggap menyerah?

Ia memang pernah hampir kehilangan alasan untuk melanjutkan, tetapi setiap kali gelap datang, selalu ada sesuatu yang mengingatkannya bahwa hidup bukan hanya tentang berhasil di dunia. Ia masih takut pada satu kegagalan yang menurutnya jauh lebih besar daripada pintu-pintu yang belum terbuka, garis akhir yang terus menjauh, atau rencana-rencana yang berkali-kali berubah: menjadi hamba yang tidak benar-benar membaik. Maka esok hari ia mencoba lagi, meski kadang dengan langkah malas, niat yang bocor, tekad yang kembali dilanggar, dan senyum pahit yang sudah terlalu akrab di wajahnya.

Barangkali hidup yang ia cari memang tidak pernah mewah; cukup menjalani hari, menunaikan apa yang harus ditunaikan, menikmati sedikit waktu untuk dirinya sendiri, membantu orang lain semampunya, lalu pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang daripada kemarin.